Mari Kenalan Dengan Aplikasi Fintech Syariah, Lebih Untung Mana?

Tidak hanya dunia perbankan yang mengenal istilah syariah. Kini pengelola jasa keuangan digital pun mulai merambah ke lini syariah. Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim dan makin paham mereka akan pentingnya ajaran Islam dalam setiap bagian hidupnya. berkolaborasi dengan teknologi.

 Penggunaan fintech ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan dunia digital. Sehingga setiap layanan jasa keuangan dapat dilakukan secara online. Mulai dari membayarkan tagihan, transfer dana, mengelola aset dan investasi, sampai menyediakan pinjaman kepada nasabahnya.

 Karena kemudahan layanan yang tidak perlu tatap muka itulah mengapa fintech kemudian berkembang pesat. Masing-masing perusahaan memfokuskan diri pada layanan terkuatnya. Termasuk salah satunya yang berani memasuki lini syariah.

 Syarat Mutlak Fintech

Berhubungan dengan uang, maka syarat utamanya adalah bisa dipercaya. Bagaimana supaya bisa dipercaya, maka perusahaannya terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, atau OJK. Fintech ojk merupakan garansi bahwa kecil kemungkinan pengalaman buruk akan dialami oleh nasabahnya. Bayangkan jika Anda masuk ke sebuah perusahaan ilegal bahwa tak ada yang bisa mengonfirmasi bagaimana keadaan uang Anda.

 Macam-macam Fintech

 Seperti penyedia layanan keuangan lainnya, fintech pun terbagi 2 yaitu konvensional dan syariah. Seperti dijelaskan di awal, mayoritas bangsa Indonesia yang muslim mendorong kemajuan fintech berbasis islami ini. Sekarang memang belum banyak fintech yang berbasis syariah, yang terdaftar baru hanya 9 perusahaan per informasi bulan September 2019.

 Fintech Berbasis Syariah

 Lalu apa pengertian fintech syariah? Yaitu layanan jasa keuangan berbasis teknologi seperti pada umumnya yang ada layanan uang elektronik, dan asuransi. Pembedanya adalah ada jasa layanan peer to peer (P2P) dalam platform pinjamannya. Seperti halnya jasa syariah lainnya pula, pembeda syariah dan konvensional terletak pada akad, riba, mekanisme tagihan dan menyelesaikan sengketa.

 Fatwa MUI dijelaskan pula bahwa bisnis fintech yang syari adalah yang tidak ada riba, jelas akadnya (terhindar dari gharar), bukan bertujuan spekulasi (maysir), harus transparan (bukan tadlis), larangan keras merugikan satu pihak (zhulm), terhindar dari bahaya (dharar), dan jauh dari haram.

 Sangat penting dalam menerapkan prinsip islami, fintech ojk untuk bisa transparan dan adil sebagaimana sudah disyaratkan dalam islam. Termasuk dalam hal penagihan yang dijauhkan dari sikap tidak adil. Melepaskan kebiasaan menagih dengan penuh intimidasi, yang syari memilih untuk bertemu langsung dengan nasabah yang bermasalah. Mereka pun akan lebih bijaksana dan manusiawi dalam menilai kemampuan nasabah untuk membayar pinjaman sebelum diberikan pendanaan sehingga gagal bayar dapat dikurangi.

 Metode P2P pun banyak membantu nasabah fintech yang tak ramah dengan bank dan dananya kecil sehingga punya kesempatan untuk memajukan usaha dan bertanggungjawab mengembalikan pendanaannya. Metode ini pada akhirnya pun punya nilai saling sosial dengan adanya saling bantu untuk menyelesaikan dana nasabah yang pailit.

Belum ada Komentar untuk "Mari Kenalan Dengan Aplikasi Fintech Syariah, Lebih Untung Mana?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel